Diwajibkan atas orang-orang beriman satu bulan penuh dalam perjalanan hidupnya selama setahun untuk bercermin melihat wajah bathinnya, membenahi diri dan orientasi hidupnya di hadapan Allah SWT.
Allah SWT ingin agar kita membongkar timbunan _hubbud-dunya_ agar terbebas dari belenggu dunia menuju akhirat dan menyibak cakrawala iman yang luas membentang.
Sebagaimana kita ketahui, bulan yang dimaksud adalah bulan Ramadhan. Dengan keistimewaan rahmah pada awalnya dan dibebaskan dari api neraka pada akhirnya, tiada hari di sepanjang bulan ini, melainkan dipenuhi dengan _nuur_ , maghfiroh dan ditempatkan di atas anak tangga keimanan yang paling tinggi, agar kita dapat mencapai derajat taqwa.
Karena itulah umat Islam menghormati dan mengagungkan bulan Ramadhan hari demi hari, dengan harapan mereka dapat memperoleh rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka.
Ya.. Bulan Ramadhan
Dalam bulan ini Allah hendak menempa iman orang-orang yang beriman, sehingga naik ke derajat taqwa. Dan bulan Ramadhan merupakan sarana penggodokan mentalitas dan jiwa orang-orang mukmin. Sehingga diharapkan setelah Ramadhan berakhir iman kita telah diperbarui kualitasnya, dikembalikan kepada fithrahnya. Dan hal ini tentunya tak akan tercapai bila kita tidak memahami makna puasa dengan sesungguhnya. Karena puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, tapi juga menjaga hati dan seluruh anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT.
_Sahabat.._
Allah SWT juga membedakan ibadah shaum dari ibadah lainnya. Pada ibadah shaum Allah justru melarang malaikat untuk mencatat pahala ibadahnya. Jika setiap kebaikan dibalas 10 kali lipat bahkan 700 kali lipat, maka untuk shaum, kata Allah SWT : "Kecuali shaum, maka yang ini untukKu dan Aku yang membalasnya".
Allah juga memberitahukan kepada orang yang shaum tentang kelebihan yang dimilikinya. *Pertama* , kebahagiaan ketika menjelang berbuka, yang *kedua* adalah kebahagiaan ketika berjumpa dengan Sang Pencipta. Jika bertemu dengan orang terkenal dan penting saja, kita merasa bahagia, maka bagaimana jika bertemu dengan Yang Maha Terkenal dan Maha Penting..?
Tentu saja besar kecilnya kebahagiaan seseorang bertemu dengan Sang Pencipta berbanding lurus dengan sejauhmana ia mengenal Allah (ma`rifatullah) dan seberapa penting arti Allah bagi dirinya. Tentunya, semakin dalam keimanan seseorang, semakin jauh ia mengenal Allah dan semakin penting arti Allah bagi dirinya. Demikianlah, makna shaum secara ruhiyah. Marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha mencapainya agar kita dapat termasuk dalam deretan para Ash-Shiddiqi, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari ini dalan hidup kita..?
_Sahabat Surga.._
Diwajibkan atas orang-orang beriman satu bulan penuh dalam perjalanan hidupnya selama setahun untuk bercermin melihat wajah bathinnya, membenahi diri dan orientasi hidupnya di hadapan Allah SWT.
Allah SWT ingin agar kita membongkar timbunan _hubbud-dunya_ agar terbebas dari belenggu dunia menuju akhirat dan menyibak cakrawala iman yang luas membentang.
Sebagaimana kita ketahui, bulan yang dimaksud adalah bulan Ramadhan. Dengan keistimewaan rahmah pada awalnya dan dibebaskan dari api neraka pada akhirnya, tiada hari di sepanjang bulan ini, melainkan dipenuhi dengan _nuur_ , maghfiroh dan ditempatkan di atas anak tangga keimanan yang paling tinggi, agar kita dapat mencapai derajat taqwa.
Karena itulah umat Islam menghormati dan mengagungkan bulan Ramadhan hari demi hari, dengan harapan mereka dapat memperoleh rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka.
Ya.. Bulan Ramadhan
Dalam bulan ini Allah hendak menempa iman orang-orang yang beriman, sehingga naik ke derajat taqwa. Dan bulan Ramadhan merupakan sarana penggodokan mentalitas dan jiwa orang-orang mukmin. Sehingga diharapkan setelah Ramadhan berakhir iman kita telah diperbarui kualitasnya, dikembalikan kepada fithrahnya. Dan hal ini tentunya tak akan tercapai bila kita tidak memahami makna puasa dengan sesungguhnya. Karena puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, tapi juga menjaga hati dan seluruh anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT.
_Sahabat.._
Allah SWT juga membedakan ibadah shaum dari ibadah lainnya. Pada ibadah shaum Allah justru melarang malaikat untuk mencatat pahala ibadahnya. Jika setiap kebaikan dibalas 10 kali lipat bahkan 700 kali lipat, maka untuk shaum, kata Allah SWT : "Kecuali shaum, maka yang ini untukKu dan Aku yang membalasnya".
Allah juga memberitahukan kepada orang yang shaum tentang kelebihan yang dimilikinya. *Pertama* , kebahagiaan ketika menjelang berbuka, yang *kedua* adalah kebahagiaan ketika berjumpa dengan Sang Pencipta. Jika bertemu dengan orang terkenal dan penting saja, kita merasa bahagia, maka bagaimana jika bertemu dengan Yang Maha Terkenal dan Maha Penting..?
Tentu saja besar kecilnya kebahagiaan seseorang bertemu dengan Sang Pencipta berbanding lurus dengan sejauhmana ia mengenal Allah (ma`rifatullah) dan seberapa penting arti Allah bagi dirinya. Tentunya, semakin dalam keimanan seseorang, semakin jauh ia mengenal Allah dan semakin penting arti Allah bagi dirinya. Demikianlah, makna shaum secara ruhiyah. Marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha mencapainya agar kita dapat termasuk dalam deretan para Ash-Shiddiqi, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari ini dalan hidup kita..?
_Sahabat Surga yang Dirahmati Allah SWT.._
Ibadah shaum menyimpan hikmah nilai-nilai kesehatan yang luar biasa, sebagian telah diketahui maupun belum diketahui orang. Hasil-hasil penelitian di bidang kedokteran biomedik menunjukkan bahwa shaum merupakan sarana terapi/ pengobatan bagi kesehatan jiwa/ruhani dan juga badan, yang harus dilakukan dengan ikhlas sepenuh hati.
Sehingga tidak mengherankan, jiwa seorang yang senang menjalankan shaun (baik Ramadhan maupun Shaum sunnah lainnya), akan nampak istimewa. Nyata bukan, bahwa kesehatan jiwa terpancar dari kesehatan badan dan kecantikan di wajah seseorang.
1. Mengendalikan kebutuhan dasar manusia. Khususnya kebutuhan akan makanan. Secara naluriah manusia menginginkan pemenuhan yang cepat, mudah dan hasil yang maksimal. Hal ini biasanya mengakibatkan lahirnya sikap tergesa-gesa, tidak peduli dan menghalalkan segala cara. Karena itu tidak mengherankan jika hawwah yang berarti perut, sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Manifestasi rasa lapar yang berawal dari perut dapat menjadi motivasi utama yang mendasari setiap gerak dalam hidupnya. Dengan shaum, bisa melatih dan mengendalikan motivasi dasar ini agar tampil proporsional dan optimal dalam kehidupan.
Melalui puasa, bukan hanya sistem pencernaan saja yang terlatih menahan lapar, melainkan sistem pengambilan keputusan pun akan terlatih. Hal ini terjadi karena seluruh sistem tubuh terintegrasi, saling mempengaruhi dan saling bekerja sama. Sehingga dampak puasa/ shaum dapat diukur dari performa fisik seperti berkurangnya penyakit saluran pencernaan, stabilnya kadar kolesterol, jantung jadi lebih sehat, dan sebagainya.
2. Allah Swt merancang manusia dengan sangat sempurna. Salah satu buktinya adalah manusia memiliki jam biologis pengaturtubuhnya, mulai dari bereproduksi hingga beristirahat. Tidur sehabis tarawih dan bangun sepertiga malam adalah waktu istirahat yang paling sesuai dengan fluktuasi kadar hormon otak. Sehingga berdampak pada optimalisasi kinerja sistem tubuh esok harinya.
3. Melatih kelembutan dan empati. Melalui seimbangnya kinerja hormon serotonin, endorfin dan propioid melanokortin yang bekerja optimal saat berpuasa. Ketiga hormon tersebut bekerja dalam mempengaruhi aktifnya rasa empati, kelembutan pada diri seseorang.
*So, sangat spesial bukan..?
Kita bisa meraup pahala sekaligus memiliki kesehatan jiwa yg termanifestasi dalam kecantikan jiwa dan fisik kita
_Sahabatku.._
Sejarah Islam telah membuktikan bahwa shaum tidak mengurangi bobot kekuatan fisik kaum muslimin. Hal ni dibuktikan dengan kenyataan bahwa perang Badr dan Fathu Mekkah terjadi di bulan Ramadhan.
Sebaliknya, goyahnya kaum muslimin dalam perang Uhud, bukan dikarenakan kelemahan mereka dan kekuatan ketangguhan pasukan kuffar, namun terletak pada kesalahan kaum muslimin sendiri. Penyakit hati, kaburnya tujuan, silang pendapat dalam tubuh barisan, indisipliner terhadap perintah (Rasul), kecenderungan dunia yang lebih dominan daripada akhirat lah yang menjadi biangnya. *Lihat QS. 3:152*
Demikianlah pasukan muslim pulang dengan membawa kekalahan berat, setelah terlebih dahulu syetan berhasil menggoyahkan hati mereka. Tertipu oleh dunia dan juga oleh jumlah pasukan mereka yang banyak.
*Lihat QS.9:25-26*
Allah tidak akan menurunkan pasukan malaikatNya kepada kelompok yang merasa bangga dengan banyaknya jumlah mereka dan menganggap kemenangan pasti berada di pihak mereka. Terbukti kemudian mereka merasa sempit dan berhasil dipukul mundur oleh musuh-musuh mereka.
Setelah orang-orang mukmin masih setia kepada Rasul yang segera menyerukan, "Aku ini Rosul Allah, tidak berdusta. Aku anak cucu Abdul Muthalib", barulah Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman berupa bala tentara yang tidak mereka lihat.
Namun sayang, saat ini kita menyaksikan hal yang berbeda. Shaum menurunkan produktivitas seseorang. Baik dia bekerja sebagai kuli, petani atau pedagang. Bahkan pekerjaan-pekerjaan tersebut dijadikan alasan untuk meninggalkan shaum. Padahal kalau shaum memang melemahkan kekuatan fisik manusia, tentu Allah tidak akan mensyariatkannya, dan pasti orang-orang beriman dahulu tidak akan sanggup bertempur pada hari Badr dan pada saat Fathu Mekkah yang semuanya berlangsung di bulan Ramadhan. Semuanya ini dikarenakan kurangnya iman, kerancuan berpikir, dominasi dunia dalam hati (hubbud-dunya) dan dominasi syetan dalam mengikis sisa-sisa iman orang-orang mukmin..
Karena kemuliaan dan spesialnya bulan Ramadhan, maka sudah seharusnya kita sebagai ummat Islam mempersiapkan diri dan keluarga.
Ada beberapa hal yang penting untuk dipersiapkan antara lain adalah sebagai berikut:
Rasulullah memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa mempersiapkan diri menyambut pausa. Aisyah pernah berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari).
Ibadah lain juga harus dipersiapkan seperti memperbanyak tilawah, qiamulail, shalat fardhu bejamaah di masjid, al-ma’tsurat kubra pagi dan petang, dll. Hal ini dimaksudkan agar sejak awal kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan, bulan Rajab dan Sya’ban adalah masa warming up, sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu sudah menjadi hal yang biasa.
Kita memahami bahwa mempersiapkan keimanan itu bukan hanya pada bulan Rojab Sya’ban saja. Tetapi dipersiapkan disetiap hari, namun pada momentum ini diharapkan untuk meningkatkan persiapannya. Bulan Rojab Sya’ban ini juga bisa dikatakan sebagai bulan batu loncatan untuk optimalisasi ibadah di bulan Ramadhan nanti.
Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rojab ini mari persiapkan fisik seperti olah raga teratur, membersihkan rumah, makan-makanan yang sehat dan bergizi.
Persiapan harta ini bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Mempersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan yang benar tentang Ramadhan. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya.
Cara untuk mempersiapkan ini antara lain dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntutan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan berbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, dan juga penting untuk dipersiapkan.
_Wallahu' Alam_
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh
boleh wanita i'tikaf, syaratnya aman dr fitnah.
caranya sm dg i'tikaf pd umumnya.. tdk ada perbedaan dg laki"
boleh disini artinya ttp hukumnya sunnah
Ustadzah ana mau tanya. Gimana hukumnya tahajut dibulam ramadhan dan pelaksanaanya sebelum sahur
sah dan boleh
boleh
tarawih itu hanya istilah krn shalat itu bisa dikerjakan sambilan istirahat dl.. tdk hrs langsung full 8 atau 20 rakaat
Bgaimana cara menyemangati diri agar gembira saat menjelang ramadhan?? Dan jika kita lupa akan utang puasa yg tdahulu..bagaiman cara untuk melunasi ny sblm puasa tiba??syukran ustadzah
agar semangat menyambut ramadhan banyak baca dan fahami apa istimewanya ramadhan
jk lupa blm qadha ya pas ingat hrs langsung diqadha
maksml blm masuk ramadhan mk msh bs qadha puasa terdahulu
jk sdh masuk ramadhan maka hrs bayar fidyah sbgai denda dan stlh ramadhan ttp hrs diqadha puasanya
tdk, silahkan telan
lalu berhenti makan dan puasa
Syukron ustadzah
yg menyusi termasuk mndpt keringanan untuk tdk berpuasa, kecuali jk ia mampu puasa dan tdk membahayakan bayi maka jk memilih ttp puasa ya boleh jg
jk memangambil keringanan tdk puasa maka mengqadhanya stlh lewat ramadhan dan dia sdh bs puasa
Anna tanya lgi
Jika orang yg berpuasa menghabiskan waktu siangnya untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga yg sangat,apakah hal itu dapat mempengaruhi sah nya berpuasa?
menghabiskan waktu siang dg cara apa ya ?
Saya mau tanya, jika ada perempuan hamil tidak kuat puasa bagaimana hukumnya? Kemudian apa boleh kita tidak merkumur pada saat wudhuv karna dikhawatirkan airnya tertelan?
Orang hamil yg tdk kuat boleh tdk puasa, itu keringanan baginya
nnt dia ganti di hari lainnya
berkumur ktk puasa boleh asal jgn berlebihan dan jgn sampai tertelan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar