Saudara-saudara. Lautan di belakang kalian, dan musuh di depan hidung. Kita berada pada _point of no return_. Tidak ada tempat untuk berlari. Tidak ada kata pulang. Tidak ada alternatif lain, selain meluluh-lantakkan musuh. Serbuuu...”.
Thoriq Bin Ziad, mampu membakar semangat juang pasukannya, sesaat setelah mendarat dan berpidato dengan latar belakang kapal yang telah dibakar atas perintahnya. Dan *Thoriq pun menang*.
_Sahabat Fillah_
Al-Qur’an memerintahkan untuk berbicara efektif (Qaulan Baligha).
Dari sisi lain Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah berbicara secara baik ( efektif) atau diam”.
Asy-Syaukani dalam Kitab tafsir Fathul Qadir, mengartikan al-Bayan sebagai kemampuan berkomunikasi. Konsep tentang komunkasi verbal tidak hanya berkaitan dengan masalah cara berbicara efektif saja melainkan juga etika bicara
🗣 *Cara kita berkomunikasi dengan orang lain adalah sebuah kebiasaan*. Karenanya, seringkali kita tidak mengetahui apakah pola percakapan yang kita lakukan sudah baik atau belum baik.
Andai saja kita masuk dalam kategori si A, kita tidak perlu khawatir karena pola percakapan yang kurang baik tentu saja dapat diperbaiki. Di bawah ini adalah beberapa kesalahan yang umum dilakukan oleh orang-orang dalam percakapan beserta beberapa solusi untuk memperbaikinya.
*1. Tidak Mendengarkan*
Sebagian besar orang bukanlah tipekal pendengar yang baik. Ini tentu saja berhubungan dengan ego mereka yang tinggi, yang justru ingin lebih didengarkan dibanding mendengarkan. Dalam setiap percakapan mereka sepertinya tidak tahan menunggu giliran untuk berbicara.
*Belajarlah menekan ego* untuk mendengarkan secara sungguh-sungguh apa yang orang lain katakan.
_gunung apa yang anda daki?apa yang ada sukai dari mendaki gunung?apa saja yang anda lakukan di atas gunung?_
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan membuat topik percakapan menjadi lebih mendalam, lebih menarik, serta memancing lebih banyak lagi topik untuk didiskusikan. Dan yang tak kalah pentingnya lawan bicara kita mengetahui bahwa kita sungguh-sungguh sedang mendengarkannya. Hal ini tentu saja akan membuat tingkat respek lawan bicara bertambah pada kita.
*2. Terlalu Banyak Bertanya*
Beberapa pertanyaan dapat berarti kita antusias dengan lawan bicara kita, namun terlalu banyak bertanya pun akhirnya menjadi tidak baik karena sepertinya kita sedang menginterogerasi lawan bicara, dan dapat membuat mereka menjadi tidak nyaman.
*Cobalah gabungkan antara pernyataan dan pertanyaan*, misalkan :
_saya pun minggu lalu berakhir pekan dengan memancing bersama teman-teman kerja saya. Apakah anda suka memancing?_
*3. Kehabisan Topik Untuk Dibicarakan*
[12/4 20:20] Ustadzah Dwi: *4. Penyampaian yang Buruk*
*5. Menginterupsi*
Apakah yang kita rasakan jika pembicaraan kita dipotong oleh lawan bicara kita? … Ya, lawan bicara kita pun akan merasakan hal yang sama jika kita memotong pembicaraannya. Biarkan lawan bicara kita menghabiskan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan. Itu adalah salah satu bentuk penghargaan kita pada lawan bicara kita. Carilah keseimbangan antara mendengarkan dan berbicara.
*6. Keinginan “Selalu Benar”*
Orang tidak akan terkesan kepada kita jika kita selalu ingin merasa benar dalam setiap percakapan. Seringkali pembicaraan bukan betul-betul sebuah diskusi. Kadang-kadang kita ingin menjaga mood tetap baik dengan berbicara dengan seseorang. Sebagai contoh : salah satu teman kita ingin bercerita kepada kita mengenai serunya pengalaman berarung jeram sampai-sampai perahu karetnya terbalik. Namun kita malah berbicara bagaimana berarung jeram yang baik. Dapat dipastikan mood teman kita akan langsung berubah.
Duduklah santai, berbicara dan tidak berdebat.
*7. Berbicara Tentang Hal-Hal Aneh atau Negatif*
Pernahkan kita berkenalan dengan seseorang dan setelah itu ia berbicara tentang hal-hal aneh atau negatif, seperti kesehatannya yang memburuk, cerita pembunuhan, atasannya yang menyebalkan, atau menggunakan bahasa aneh yang hanya ia dan temannya yang mengetahui artinya.
Sebenarnya tidak ada manfaatnya berbicara hal-hal aneh atau negatif seperti itu. Orang-orang akan senang berbicara kepada kita jika kita selalu memberikan energi positif dalam setiap kata-kata yang kita keluarkan.
*8. Membosankan*
Jangan bercerita panjang-panjang tentang mobil kita yang baru saja kita beli atau rumah yang baru saja selesai dibangun. Rata-rata orang tidak terlalu tertarik dengan cerita semacam itu, yang terlalu mengekspose kemampuan diri. Carilah topik yang mengarah pada hal-hal yang bergairah atau hal-hal yang lucu misalkan. Bisa juga kita menceritakan tentang pengalaman berakhir pekan di puncak kemarin atau rencana kita pada liburan Lebaran mendatang. Intinya adalah sesuatu yang positif. Bukan juga mengeluh tentang atasan atau pekerjaan kita
Dale Carnegie pernah berkata :
”Dalam 2 bulan kita akan mempunyai lebih banyak teman dengan cara antusias terhadap cerita-cerita mereka dibandingkan 2 tahun anda mencari teman dengan cara berusaha memancing mereka tertarik pada cerita-cerita anda.”
Cobalah memberi peran lebih dalam berbicara untuk lawan bicara kita. Kelak kita akan membangun sebuah hubungan yang berkualitas.
Mungkin kita sudah sering mendengar istilah “mengapa Tuhan menciptakan 2 telinga dan 1 mulut? … agar kita lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara.
*9. Tidak Merespon Dengan Baik*
Jika seseorang bercerita tentang pengalamannya, jangan sekedar mengangguk atau menjawab dengan kalimat singkat. Terbukalah dan katakan apa yang kita pikirkan. Ekspresikan perasaan kita.
🗣Sebagai penutup, kita tidak harus memperbaiki ke-9 langkah diatas secara sekaligus. Pilihlah kira-kira 3 hal terpenting yang menurut kita perlu diperbaiki dan selama 3-4 minggu kita berusaha melakukan hal tersebut secara terus menerus sampai akhirnya menjadi suatu kebiasaan.
Aamiin
Wallahu A'lam
Wa'alaikum salam Ukhti Sri, sikap ramah dan sopan kita harus utamakan agar kita tidak terkesan eksklusif dan sombong
Waalaikum salam Ukhti Pipit kita harus bisa menempatkan kapan saat becanda dan kapan saat serius dan kalo kita menegur sampaikanlah dgn kata2 yg lembut dan bijak
Dalam komunikasi tidak langsung, kadang kita tak tau org itu chat dengan nada sperti apa, mungkin bisa jadi salah paham, jika salah paham itu terjadi..bagaimana cara agar kondusif lagi dalam chatingan tersebut??syukran
Waalaikum salam memang bahasa lisan dan tulisan beda, makanya komunikasi lah lebih baik untuk menghindari salah faham
Ana mau tanya bagaimana agr kita bisa menjadi lebih expresif lagi saat berintaraksi/ ngobrol dgn orang lain. Karna kadang ana hanya terpaku saja saat sedang berkumpul dgn sodara tanpa expresi.. seakan sedang menonton film..
Dan satu lagi bagaimana cara mengolah publicspeeking (nulisnya bener ga yaa
Waalaikum salam Ukhti Hani, memang diperlukan pembiasaan, yg tadinya kita kaku coba belajar untuk ramah dan mulai interaksi dengan org karena dalam kita mengajak kebaikan perlu pendekatan personal, kalo kita diam saja bagaimana mengajak kebaikan, banyak baca buku, sehingga wawasan kita luas juga bergaul dengan orang2 yang supel dan ramah
Misal sama2 panitia saja ustadzah,atw sesekali menanyakan kabar gak lebih ustadzah
Waiyyaki ukhti Pipit, kl bicara dengann lawan jenis kepentingannya apa, nanti bisa jadi fitnah,
Sebatas wajar saja
Waalaikum salam ukhti sikap kita sebagai mantu bersikap biasa saja yang penting tunjukkan kebaikan kita, berbagi kalau ada makanan, mengantar kebutuhannya smoga dengan berjalannya waktu mertua bisa berubah
Assalamualaikum ustadzah, bagaimana jika seorang akhwat melakukan komunikasi dengan ikhwan yang Insya Allah akan melamar dan menikahinya,dengan rencana yang sudah sangat matang. Tapi si akhwat tidak berkomunikasi dengan keluarganya begitupun sebaliknya,karena jika melakukan komunikasi dengan keluarga rasanya agak sedikit berlebihan, *dalam catatatan komunikasi keduanya diketahui orang tua masing-masing,, karena komunikasi nyapun bertujuan untuk hal-hal baik dan tidak melanggar syari'at sama sekali.misalnya informasi guru,atau alim ulama secara langsung bisa didapat...
Waalaikum salam seharusnya ada pihak ketiga yg menyampaikan jangan langsung nanti menjadi fitnah dan baiknya lewat taaruf, istikharah baru khitbah, tdk boleh langsung berhubungan karena bukan muhrim
Soal B:
Yang jadi permasalahan,ketika akhwat itu tidak memiliki wali dari ayah (keluarga ayah) dan terpisah dari keluarga baik ibu yang tidak disampingnya,begitupun kakak wanitanya yang sedarah tidak pernah mengunjunginya, dengan pihak dari laki laki yang sudah berta'aruf hanya dengan bibi tapi tidak sedarah... Itu bagaimana jadinya? Jika tidak ada komunikasi lantas si akhwat harus melakukan apa?
Kan bisa melalui guru ngaji atau istri ustadzah sebagai perantara dan kalo menikah dengan wali hakim
Soal C
Guru ngajipun sudah bertemu ustadzah Alhamdulillah,tapi karena si akhwat merasa dirinya sendiri yang harus berjuang agar sampai pada waktunya ijab qobul ,maka ia tetap melakukan komunikasi hanya untuk mencari tahu informasi yang penting untuk si akhwat itu.tapi disisi lain tau bahwa bukan mukhrim itu sangat dilarang?
Iya gak apa selama yang berkaitan dengan proses pernikahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar